Tittle : Gift
Genre : Romance
Length : Oneshot
Rated. : PG
Main Cast : - Lee Hyuk Jae
- Park Jun Hee
- Lee Dong Hae
- Cho Kyu Hyun
- Park Jun Soo
- Yoon Hae Ra
Author : Rika Fitrisa
Facebook : https://m.facebook.com/rika.sepatu
Disclaimer : FF ini adalah efek dari keseringan author ngedengerin lagunya Super Junior D&E - Gift :-) FF yang untuk pertama kalinya berani author publish, entah karena apa. Ok, selamat membaca dan mohon rcl nya ya. Maaf kalau ada typo.
GIFT
"I wanna say I love you
I will always come back here
Color that suits you
I'll send together with pretty ribbon
a gift that'll reach that lovely smile...." Super Junior D&E - Gift
Lee Hyuk Jae masih menatap sebuah sapu tangan berwarna biru saphire ditangannya. Saputangan yang selalu setia menemani di segala aktifitasnya. Saputangan yang selama 6 tahun ini selalu dijaganya dengan sepenuh hati.
"Dasar aneh! Sudah 6 tahun berlalu dan kau masih betah menatap sapu tangan itu sambil tersenyum tak jelas seperti itu?" Kyu Hyun bersedekap menatap tajam kakak sepupunya yang menurutnya aneh itu.
"Terserah apa katamu, aku tidak peduli!" balas Hyuk Jae sambil memasukkan sapu tangannya kedalam saku kemeja yang ia kenakan.
"Kalau kau menyukai gadis itu, sebaiknya kau katakan padanya. Jangan hanya berdiam diri disini," perintah Kyu Hyun sok bijak.
"Dasar bocah! Jangan campuri urusanku, urus saja pacarmu itu!" balas Hyuk Jae tajam.
Kyu Hyun mendesah, kakak sepupunya itu selalu tahu kelemahannya. " Sepertinya aku akan putus, Claire terlalu protektif terhadapku. Dan aku mulai tak nyaman dengannya."
"Dan dia akan mengancam bunuh diri setelah kau melakukan hal itu?" tebak Hyuk Jae seolah hal seperti itu sudah sangat sering terjadi.
"Kau...." Kyu Hyun kehilangan kata-kata. Entah kenapa ia yang mendapat julukan si lidah tajam selalu kehabisan kata-kata jika berhadapan dengan Lee Hyuk Jae, kakak sepupu yang dua tahun lebih tua darinya.
"Hahaha........" Hyuk Jae tidak bisa lagi membendung tawanya saat melihat perubahan wajah sepupunya itu. Walaupun hatinya selalu diliputi kerinduan terhadap gadis yang memberinya saputangan itu, tetapi membalas semua perkataan Kyu Hyun padanya menjadi sebuah hiburan tersendiri untuknya.
"Berhentilah menceramahiku tentang cinta, kaupun masih dibuat kewalahan olehnya bukan?" ucapnya setelah tawanya reda.
"Baiklah, ku akui kau adalah casanova sejati!" seru Kyu Hyun sambil mendudukkan dirinya di sebuah sofa yang berada di samping pintu.
"Berhenti menyebutku dengan nama itu! Kau tahu aku sudah sangat lama berubah?" balas Hyuk Jae tak terima. Ya sejak masa SMA Hyuk Jae sudah mendapat julukan itu. Tampan, kaya, multi talenta menyebabkan para gadis bertekuk lutut padanya. Dan ia tentu menikmati semua anugerah yang ada pada dalam dirinya. Tapi semua itu berubah saat ia berumur 23 tahun. Orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan dan perusahaan milik keluarganya diambang kebankrutan karena kehilangan seorang pemimpin yang kompeten. Orang-orang yang tadinya mengelilinginya, berlomba-lomba untuk selalu berada didekatnya tiba-tiba saja menjauh. Saat itulah ia menyadari bahwa semua orang di sekelilingnya hanya mengincar hartanya, termasuk gadis-gadis yang ia kencani.
Tapi ia bersyukur setidaknya masih ada beberapa orang yang ternyata benar-benar tulus padanya. Salah satunya Park Jun Hee, gadis yang memberinya sebuah saputangan di hari ulang tahunnya yang ke 23. Gadis yang lima tahun lebih muda darinya, adik dari sahabatnya Park Jun Soo. Jun Hee tak pernah sekalipun menjauhinya, ia juga begitu rajin mengunjunginya di rumah sakit saat ia depresi karena kehilangan kedua orangtuanya. Sekalipun gadis itu tak pernah memandangnya dengan belas kasihan, gadis itu selalu menatapnya hangat penuh cinta.
Ya, walaupun Jun Hee tak pernah menyatakan perasaannya yang sesungguhnya, tapi Hyuk Jae bisa merasakannya. Tapi ia tak punya keberanian untuk mendapatkan gadis itu, saat itu ia terlalu lemah dan tak berguna. Akan tidak adil bagi Jun Hee jika ia berada disamping Hyuk Jae dikondisinya yang sekarang. Jun Hee berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya.
Hingga pada akhirnya, bibinya adik dari ibunya, yang tak lain adalah ibu Kyuhyun mengajaknya untuk tinggal bersamanya di New York. Tentu saja Hyuk Jae menerima tawaran tersebut. Dan itu berarti ia harus berpisah dari Jun Hee. Saat kepergiannya gadis itu tak mengantarnya ke bandara karena alasan ia ada ujian. Tapi Hyuk Jae yakin kalau Jun Hee takut dirinya akan menangis melepas kepergiannya. Saat itu hanya Jun Soo yang mengantarnya ke bandara.
"Jaga dirimu dengan baik," ucap Jun Soo seraya memeluk sahabatnya Hyuk Jae.
"Aku jadi penasaran, seperti apa gadis yang berhasil merubahmu itu?" pertanyaan Kyuhyun sontak menghentikan lamunan Hyuk Jae saat itu. Enam tahun sudah berlalu dan Hyuk Jae benar-benar sudah berubah, ia bukan lagi casanova yang suka mempermainkan hati para gadis seenaknya. Kini ia adalah Spencer Lee, Presiden Direktur Artemis, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fashion. Spencer Lee selalu tampil sempurna tampa celah, hanya satu kelemahannya ia begitu sibuk dengan pekerjaan sehingga dikenal sangat dingin dan kaku terhadap orang-orang disekitarnya.
"Jangan harap kau bisa melakukan hal yang macam-macam!" ucap Hyuk Jae pelan tapi penuh ancaman.
Kyu Hyun bergidik, entah kenapa aura Hyuk Jae kini tampak gelap. Sepupunya itu kini telah banyak berubah, terkadang ia merasa merindukan Hyuk Jae yang dulu. Hyuk Jae yang bisa diajak bersenang-senang olehnya, bukan Spencer Lee yang sibuk dengan pekerjaannya. " Tenanglah aku tidak akan macam-macam!"
"Oh ya, lusa aku kembali ke Korea."
"Yaa!!! Hal sepenting ini kau baru memberi tahu ku sekarang!" geram Kyu Hyun.
Hyuk Jae hanya bisa tersenyum kecil, tampak menyeringai "Sorry...."
xxxxxxx
Langit Seoul tampak cerah di hari pertama Hyuk Jae menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia merindukan semuanya, sahabatnya Park Jun Soo dan gadis manisnya Park Jun Hee. Tidak terbayangkan olehnya bahwa ia butuh waktu selama ini untuk kembali ke Seoul. Itupun karena Kyuhyun yang selalu memanas-manasinya untuk mengejar cintanya. Ya, dulu ia memang pengecut tapi sekarang ia telah berubah. Sesulit apapun itu ia akan berusaha mengejar cintanya.
"Lee Hyuk Jae, apa benar ini dirimu?" ucap Park Jun Soo sembari memutar-mutar tubuh sahabatnya itu.
"Tentu saja ini aku, kau pikir siapa?" balas Hyuk Jae sengit. "Sudahlah, aku pusing!" protesnya.
Jun Soo menghentikan aksinya tersebut sembari tersenyum kecil "Mianhae, kau tampak berbeda!" ujarnya penuh rasa kagum.
"Jun Hee.....apa ia tidak datang?" tanya Hyuk Jae saat disadarinya hanya ada Jun Soo seorang yang menjemputnya.
"Ehm....." Jun Soo seakan kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia bingung harus menjawab apa. Walaupun tidak pernah mengungkapkan satu sama lain, tapi ia tahu bahwa adik dan sahabat karibnya itu saling menyukai. Tapi itu enam tahun yang lalu, kini semuanya telah berubah. "Dia ada acara jadi tidak bisa menjemputmu."
Hyuk Jae tersenyum samar, ia tahu sahabatnya itu tengah menyembunyikan sesuatu tapi ia berusaha memakluminya. "Sudah 6 tahun, sekarang ia pasti sibuk bekerja," tebak Hyuk Jae.
"Ya....perilakunya kini tak ubahnya seperti burung hantu."
"Apa maksudmu?" kening Hyuk Jae berkerut.
"Sudahlah, ayo ku antar ke apartemen barumu!" Jun Soo menarik lengan sahabatnya itu dengan tak sabar.
xxxxxxx
"Kau begadang lagi?" Dong Hae menatap prihatin wajah kekasihnya.
"Itu gara-gara nenek sihir itu! Seenaknya saja ia memintaku menyelesaikan skenario 3 episode dalam waktu satu malam. Mereka syuting satu haripun belum tentu bisa menyelesaikan 1 episode. Apalagi dengan temperamen buruk para artis pendatang baru itu," Jun Hee menghela nafas, lelah. "Wajahku sudah seperti panda," keluh Jun Hee lagi sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dong Hae hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah kekasihnya tersebut, ditariknya kedua telapak tangan Jun Hee dari wajahnya dan digenggamnya tangan itu erat-erat "Tidak apa-apa, lagipula panda itu lucu dan menggemaskan" ucapnya penuh kehangatan.
"Aku tidak mau terlihat lucu dan menggemaskan dihadapanmu!" Jun Hee menekuk wajahnya berlipat-lipat, entah kenapa ia selalu saja merasa sebal jika Dong Hae sudah menyebutnya lucu dan menggemaskan. "Aku ingin selalu tampil cantik didepanmu!" lanjutnya.
Dong Hae tersenyum lembut mendengar penuturan jujur gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun itu. Gadis yang selalu membuatnya tersenyum dan merasakan kebahagiaan setiap hari. "Aku mencintaimu entah kau seperti panda atau beruang kutub sekalipun. Apapun dirimu aku akan selalu mencintaimu."
Tes....., lagi-lagi air matanya menetes saat melihat meja yang berada di samping jendela yang mengarah ke keramaian jalanan kota Seoul di kafe Mouse & Rabbit, kafe yang sering mereka kunjungi untuk menghabiskan waktu berdua, meja yang selalu menjadi tempat favorit mereka. Tapi itu dulu, kini semuanya telah berubah.
"Wah....kebetulan sekali kita bertemu disini," sapa seorang gadis yang entah mengapa semakin menyayat hatinya. Jun Hee tahu benar siapa orang yang kini berada dibelakangnya itu, tapi ia enggan untuk berbalik dan menatapnya. Tapi bagaimanapun ia harus menghadapinya. Perlahan ia mulai membalikkan tubuhnya, dan itu adalah pemandangan terburuk yang ia lihat selama hidupnya. Sahabatnya bergelayut manja di lengan kekasihnya. Bukan, bukan kekasih tapi mantan kekasih. Jun Hee harus terbiasa dengan kata itu sekarang.
"Kau begadang lagi?" nada suaranya masih sama seperti dulu, kekhawatiran dimatanya juga ia masih bisa melihatnya dengan jelas. Kekhawatiran saat Jun Hee tampil dengan mata pandanya. Tapi apa ia tak menyadari bahwa kini bukan hanya mata panda yang ada di wajahnya tapi juga mata bengkak karena terlalu sering menangis. Menangisi dirinya yang tiba-tiba saja memutuskan hubungan mereka dan berlari ke arah sahabatnya dan berjanji akan menikahinya.
"Ya, deadline semakin dekat!" jawab Jun Hee singkat.
"Oh ya, minggu depan kami akan segera menikah. Ku harap kau datang di acara pernikahan kami!" ucap Hae Ra sembari menyodorkan sebuah kartu undangan berwarna pink dengan aksen bunga-bunga ungu sebagai hiasannya. Nama Yoon Hae Ra & Lee Dong Hae terpatri dengan sangat indah di bagian depan kertas undangan itu sebagai nama calon pengantin. Dan itu membuat hatinya semakin hancur.
"Ayo oppa kita harus menemui Yesung & Jong In untuk memberi kabar gembira ini," Hae Ra berujar riang sembari menggandeng tangan calon suaminya itu, ia bahkan tak mempedulikan sahabatnya yang tampak syok mendengar kabar tersebut. Dan Dong Hae hanya bisa menuruti keinginan calon istrinya itu, walaupun ia tahu Jun Hee pasti sedang kesakitan saat ini.
xxxxxxx
Jun Hee pulang dengan keadaan kacau, matanya perih dan kepalanya terasa berdentam-dentam. Patah hati kali ini terasa lebih menyakitkan dibandingkan dengan kejadian enam tahun lalu. Cinta pertama yang tak pernah sampai. Dan kini saat ia mendapat penggantinya, justru pengkhianatan yang ia dapatkan.
"Jun Hee-ya....kaukah itu?" sebuah suara yang sudah lama tak memukul gendang telinganya tiba-tiba saja membuatnya kehilangan separuh napasnya.
Hyuk Jae menatap Jun Hee dengan pandangan yang sulit diartikan, gadis itu tampak rapuh. Mata yang dulu baginya selalu memancarkan sinar mentari di kegelapan hatinya kini tampak gelap berawan. Satu kata saja ia berujar, ia yakin awan-awan itu akan terpecah menjadi bulir-bulir air mata yang menganak sungah di pipinya.
"Oppa, kau pulang?" Jun Hee segera mengusap kedua matanya, berharap air matanya takkan jatuh lagi.
"Ya, aku pulang. Apartemen yang ku pesan sepertinya belum bisa ditempati, jadi untuk beberapa hari aku akan tinggal disini. Tidak masalah kan?"
"Tentu saja tidak, aku senang mendengarnya," jawab Jun Hee seceria mungkin walau terlihat agak sedikit dipaksakan. Hyuk Jae tahu gadis di depannya itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Hyuk Jae memastikan. Langkahnya semakin mendekat ke arah gadis yang teramat sangat dirindukannya itu.
"Kau habis menangis?" tanyanya lagi saati mereka hanya dipisahkan jarak beberapa senti saja.
Jun Hee menggeleng. "Aku habis begadang semalam karena dikejar deadline, dan aku belum sempat tertidur karena masih ada hal yang harus aku urus. Makanya mataku merah dan berair seperti ini," papar Jun Hee berusaha menutupi kesedihannya.
"Baiklah aku mengerti," ucap Hyuk Jae tak ingin mendesak lebih jauh lagi. Sudah cukup baginya Jun Hee yang kini berada dalam jarak pandangnya. Dipeluknya gadis itu dengan erat, seolah tak ingin dilepasnya lagi. "Maaf karena aku jarang menghubungimu, maaf karena aku baru datang sekarang," ucap Hyuk Jae lembut, dan entah mengapa Jun Hee merasa ada yang berdesir dihatinya, sebongkah rasa yang dikiranya sudah lama mati entah mengapa terasa berdetak kembali.
xxxxxxx
Sudah satu minggu berlalu, dan Hyuk Jae masih tinggal dikediaman keluarga Park. Sebenarnya tiga hari yang lalu apartemennya sudah siap untuk ditempati, tapi ia terus mencari-cari alasan untuk tinggal lebih lama dirumah ini. Dan entah mengapa Jun Soo dan kedua orang tuanya mempercayai saja semua perkataannya tanpa banyak perkataan. Lagipula bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan Jun Hee dalam keadaannya saat ini. Jun Hee selalu tampak ceria dihadapannya, tapi Hyuk Jae tahu kalau gadis itu selalu menangis diam-diam. Bahkan semalam ia bisa mendengar tangisannya dengan jelas, dan hatinya pun ikut sakit mendengarnya.
"Hyung ayo jujur padaku, sebenarnya ada apa dengan Jun Hee? Kalian mungkin bisa menyembunyikannya dariku, tapi aku bukan lagi tipe orang yang gampang dibodohi. Aku tahu ia sering menangis diam-diam, dan semalam semuanya terdengar jelas," desak Hyuk Jae tampak tak sabar.
"Itulah alasan kami mengizinkanmu untuk terus tinggal di rumah ini walaupun kami tahu apartemenmu itu sudah siap untuk ditempati," jelas Jun Soo tenang. "Dulu ia mencoba mengobati hatinya sendiri dan itu berhasil. Sekarang hatinya kembali terluka, dan itu semakin parah karena luka baru bertumpang tindih dengan luka lama. Untuk itu kumohon bantulah dia," lanjutnya sembari menepuk pundak sahabatnya sebelum akhirnya ia berlalu pergi.
xxxxxxx
Seharusnya kemarin ia tidak datang, seharusnya ia berdiam diri saja di rumah. Ia tidak tahu kalau rasa sakitnya akan separah ini. Masih teringat dengan jelas wajah bahagia Hae Ra dan Dong Hae yang berdiri di pelaminan sembari menyambut beberapa tamu undangan. Ia pikir setidaknya Dong Hae akan meneteskan air mata saat menjabat tangannya, tapi pria itu tampak bahagia diatas penderitaannya. Dan jelaslah sudah kalau ia memang sudah tak ada artinya lagi bagi pria itu.
"Selalu saja seperti ini! Sejak kapan kau suka memandangi langit senja seorang diri?" tanpa permisi Hyuk Jae langsung saja menghempaskan bokongnya di samping Jun Hee. Dan Jun Hee langsung saja menghapus sisa-sisa air mata dipipinya seperti biasa saat Hyuk Jae berada didekatnya.
Hening. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara, seakan suara mereka ikut terserap kedalam sebuah lingkaran yang menyerap senja dan menggantinya dengan langit malam. Hingga bintang pertama yang sinarnya belum seberapa mulai muncul di langit malam, disaaat itulah Hyuk Jae yakin bahwa suaranya telah kembali padanya.
"Apa kau masih ingat ini?" Hyuk Jae mengeluarkan sebuah saputangan berwarna biru saphire dari dalam saku jasnya.
"Kau masih menyimpannya?" tanya Jun Hee tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hyuk Jae mengangguk diiringi sebuah senyuman yang hangat "Aku selalu menjaganya dengan baik, dia yang selalu menemaniku disaat aku sendirian" jawabnya penuh arti. "Dan aku akan terus menjaganya sampai kapanpun."
Hampir saja air matanya kembali tumpah jika ia tidak segera mengusap matanya cepat. Tapi malam itu Hyuk Jae menghentikan gerakan tangannya sebelum ia berhasil menjangkau matanya. Hyuk Jae menggenggam tangannya erat, terasa hangat dan menyengat. Menggetarkan kembali hatinya yang terluka.
".....tears that keep falling in your heart
you don't have to hide it with that hand
show it to me
your weakness too (everything)
and your everything (everything)
I'm here with you...." lanjutnya lagi penuh dengan kelembutan. Dan itu sukses membuat tangis Jun Hee pecah seketika. Ya, ia tak harus menyembunyikan lagi air matanya karena kini ada Hyuk Jae disampingnya.
Hyuk Jae menarik tangan Jun Hee agar semakin dekat dengannya. Dipeluknya gadis itu dengan penuh cinta. "Aku tidak tahu orang seperti apa dia, aku juga tak tahu kenapa ia bisa membuatmu terluka sedalam ini. Tapi percayalah aku selalu ada untukmu, sama seperti enam tahun yang lalu perasaanku tak pernah berubah sedikitpun terhadapmu, tapi mungkin jauh lebih besar dari sebelumnya. Saranghae...." akhirnya setelah enam tahun berlalu satu kata itu berhasil diucapkannya.
Jun Hee terpaku dalam pelukan hangat Hyuk Jae, ia tak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu mendadak baginya. Tapi saat Hyuk Jae melepas pelukannya, entah mengapa ia merasa jiwanya kembali kosong. Kesedihan itu kembali menyelimuti hatinya. Hyuk Jae menatap matanya lembut, dihapusnya jejak-jejak air mata yang tertinggal di kedua pipinya. Kemudian ia merogoh saku jasnya kembali. Dan sebuah kotak berbentuk hati berwarna biru gelap kini berada tepat didepannya. Hyuk Jae membuka kotak itu, sehingga terlihatlah sebuah cincin berwarna putih mengkilat dengan bertahtakan sebuah permata ditengahnya.
"Will you marry me?" ucap Hyuk Jae saat itu juga membuat mata Jun Hee terbelalak seketika, tapi entah kenapa jiwanya kembali terasa penuh kembali. Hatinya seakan kembali bermekaran, dan kupu-kupu seakan berterbangan di dalam perutnya. Musim semi seakan kembali di langit hatinya.
"...you waited for me
more than any word
more than any jewel
it's an irreplaceable gift..."
"...because you're there
I can stay just the way I am
just like what you gave me
I'll find something I can give to you
in this lovely day..."
Thank you for my love.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar